A powerful deity is cast down to earth and must navigate a world of human conflict, leading to a dramatic and action-packed confrontation.
Hardy Awan: Bayangkan jika: Seorang dewa yang dihukum turun ke bumi karena memberontak pada Dewa Tertinggi, ia jatuh di tengah padang rumput dimana empat pasukan besar umat manusia sedang bersiap untuk sebuah peperangan yang akan menentukan masa depan dunia.
Hardy Awan: Dewa itu bangkit, ia menyadari bahwa hanya setengah dari kekuatan dewa yang tersisa di tubuhnya, walaupun demikian, senjata sakti tombak kayangan masih digenggamnya.
Hardy Awan: Ringkik kuda perang meraung di udara, instingnya menyadari sebuah kekuatan luar biasa yang bukan berasal dari bumi sedang hadir di depannya, para penunggangnya sibuk menenangkan kuda-kuda itu, para pemimpin pasukan pecah konsentrasinya karena keadaan yang tiba-tiba tak terkendali.
Hardy Awan: Dewa yang jatuh perlahan memulihkan ingatannya, ia menatap setiap pasukan yang seakan mengepungnya lalu pandangannya mengarah kelangit, ia mengangkat tongkat dewa ke atas kepalanya, kemudian berteriak membahana, "Aaaaargh", bahunya berguncang dan suara itu memekakkan telinga.
Hardy Awan: Keempat pasukan dari empat kerajaan menutup telinga mereka, kuda-kuda mengangkat kaki depan tinggi-tinggi, beberapa prajurit terlempar dari punggung kuda.
Sementara para jendral perang terperanggah atas apa yang mereka lihat dan rasakan.
Hardy Awan: Mengingat semua yang terjadi padanya, dewa yang jatuh itu murka seakan menjadi gila, dengan sekuat tenaga ia menghentakkan tongkat dewanya ke tanah.
"Booom".
Seketika gempa terjadi, berawal dari tongkat tanah bergelombang seperti air laut di musim muson barat.
Hardy Awan: Dari ujung tongkat dewa memancar cahaya menyilaukan, panas menyapu seluruh pasukan disekitar, menjadikan mereka meleleh meninggalkan tengkorak yang juga kemudian menjadi debu yang pupus di terpa getaran gempa itu sendiri, kemudian semua diam dan sepi.
Hardy Awan: Beberapa waktu kemudian, tepat di tengah padang tandus tergeletak sosok lelaki muda terbungkus debu, tak ada gerakan dari tubuh itu hanya getaran nafas yang menandai bahwa ia masih hidup, sebuah tongkat besi berkarat tergenggam erat di tangannya.
Hardy Awan: Terlihat seorang tua bersama anak gadisnya memasuki padang tandus, entah apa yang membuatnya nekat datang ke tanah terkutuk ini, kakek itu melihat sosok tubuh manusia yang tertutup debu, perlahan mendekatinya, tertatih-tatih di papah oleh putrinya.
Hardy Awan: Kakek dan putrinya bergegas setelah mengetahui tubuh tersebut masih bernapas, ia meminta tabung air dari kulit banteng, membukanya dan menuangkan ke mulut orang yang tergeletak itu, tetes demi tetes menyentuh tenggorokannya.
Hardy Awan: Dia membuka matanya, kakek itu bertanya:
"Siapa namamu anak muda."
Lelaki itu hanya melotot dan kemudian pingsan kembali.
Kakek dan gadis itu membuat tandu dari kain yang tersisa, keduanya menyeret pemuda itu di atas tandu, berjalan terseok-seok melewati gurun, melewati hutan.
Hardy Awan: Sebulan kemudian lelaki itu sadar dari pingsannya, ia mendapati dirinya berada di dipan bambu dalam sebuah gubug renta dari papan kayu oak, ia bangun untuk duduk, dipan itu berderik mengalihkan pandangan seorang anak gadis kecil yang sedang menanak sesuatu di dalam perapian.
Hardy Awan: oh... Dia sudah bangun, tunggu aku panggil kakek" anak itu berlari keluar dan sekejap kemudian ia datang bersama seorang kakek tua menghampiri.
"Syukurlah kamu sudah bangun anak muda," kakek itu datang membawa semangkuk sup labu kental.
"Siapa namamu?" ia menyodorkan mangkuk.
Hardy Awan: aku ?" Lelaki itu kebingungan.
"Baiklah jangan buru-buru, kamu baru sadar dari pingsan yang lama, santai saja," seru kakek sambil membelai janggut putihnya.
"Tapi aku benar-benar tak tahu siapa diriku" kata lelaki itu
"Baiklah, kami akan memanggilmu Cheng Ho saja.
Hardy Awan: Kakek berjanggut putih memperkenalkan anaknya yang bernama Mei Fang. Bapak dari anak itu adalah prajurit yang lenyap beberapa waktu lalu ketika perang empat kerajaan, sedang ibunya wafat beberapa saat kemudian karena penyakit akut dan rasa sedih yang mendalam.
Hardy Awan: Cheng Ho tinggal bersama kedua penolongnya, berkebun dan mengail ikan di danau menjalani kehidupan bersahaja.
Hari dan bulan berganti namun Cheng Ho masih belum mengingat jati dirinya.
Hardy Awan: Hari itu di depan gubuk tua hadir lima prajurit berpakaian zirah besi, terlihat bengis dan waspada.
Hardy Awan: Tergopoh-gopoh kakek dan anak gadisnya keluar gubuk dan mengaturkan Horman dengan membungkuk dalam-dalam, Cheng Ho hanya melihatnya dari jendela gubuk.
Hardy Awan: Prajurit itu menunjuk Cheng Ho didalam rumah, "kamu mempunyai anak lelaki pak tua, dia harus ikut wajib militer, dan ikut berperang."
"Tolong jangan dipaksakan, aku akan menanyakan kesediaannya," pak tua itu memohon.
Hardy Awan: Cheng Ho berjalan keluar rumah, "aku bersedia" ucapnya lantang.
Prajurit itu terlihat lega, ia tak menyangka semudah itu merekrut Cheng Ho untuk bergabung ke militer.
Hardy Awan: Cheng Ho mengambil tombak berkarat diiringi tatapan kakek dan anak gadisnya, ia berpamitan pada mereka berdua dan dikawal pergi bersama para prajurit.
Hardy Awan: Halaman luas barak prajurit terisi berbagai macam lelaki yang dikumpulkan untuk wajib militer, Cheng Ho adalah salah satu di antara mereka, pakaian sipil mereka yang compang-camping memastikan asal usulnya dari rakyat jelata.
Hardy Awan: Beberapa prajurit datang untuk membagi mereka dalam kelompok kecil, Cheng Ho bergabung dalam salah satu kelompok berjumlah 10 orang, mereka kemudian diarahkan untuk berlari dan berlatih senjata, Cheng Ho memilih menggunakan tombak.
Hardy Awan: Beberapa hari kemudian kelompok kecil itu sudah memakai seragam prajurit dan sedang melakukan pemilihan komandan kompi.
Hardy Awan: Tantangan pertama menjadi komandan kompi adalah mengangkat beban, prajurit yang mampu mengangkat beban terbesar adalah nominasinya.
Hardy Awan: Cheng Ho berhasil mengangkat beban yang paling berat, tak ada yang menyangka, bahkan prajurit yang bertubuh paling besar dan kekar pun dikalahkannya.
Hardy Awan: Mungkin ia hanya kuat, belum tentu cepat.
Namun ketika lomba lari dilaksanakan, Cheng Ho sangat cepat dan berada di peringkat pertama.
Hardy Awan: Di uji terakhir yaitu memanah, Cheng Ho dengan tepat sasaran di jarak manapun yang ditentukan pelatih, hal ini menuai sorak-sorai dan membuat nama Cheng Ho terkenal.
Hardy Awan: Cheng Ho diangkat menjadi Komandan Kompi untuk sekelompok kecil prajurit dengan kemampuan di bawah rata-rata.
Hardy Awan: Di militer dunia ini, kemampuan tempur dibagi atas 3 kasta yaitu kasta prajurit, kasta perwira dan kasta jendral, di atas kasta jenderal masih ada yang lebih digdaya namun mereka tak pernah dicapai siapapun, tiap kasta memiliki 10 tingkat.
Hardy Awan: Cheng Ho diangkat menjadi prajurit kelas 3 dengan bawahan rata-rata prajurit kelas 1. Mereka berlatih di bawah bimbingan perwira kelas 1.
Hardy Awan: Tiba saat yang ditentukan, pasukan mereka dikirim ke medan perang, berbagai macam ekspresi terlihat dari teman prajurit Cheng Ho, mulai dari sedih, takut bahkan ada yang antusias menghadapi peperangan.
Hardy Awan: Berapa besar pasukan yang dikirim, Cheng Ho hanya mengawal satu bagian dari perbekalan, mereka di barisan tengah, gegap gempita prajurit berbaris seperti sungai manusia yang tak berhilir
Hardy Awan: Inilah pasukan perang chakra Buana Tungga Dewa yang hebat, pasukan ini berasal dari kerajaan Angin Utara, di samping prajurit infanteri yang berbaju besi, terdapat pasukan berkuda, pasukan gajah dan pasukan ketapel raksasa.
Hardy Awan: Pasukan besar itu melalui sebuah ngarai curam dengan jalan yang sempit.
Hardy Awan: Tiba tiba baru berjatuhan dari kedua sisi tebing memisahkan antara pasukan kavaleri di depan, logistik di tengah dan infantri di belakang.
Hardy Awan: Pasukan chengho terjepit di tengah oleh batuan yang menumpuk, dari arah depan dan belakang terdengar pekik kesakitan prajurit yang bertempur, suasana huru-hara dan tegang terwujud.
Hardy Awan: Tiba-tiba ribuan anak panah deras menuju mereka dari atas tebing, mayat bergelimpangan tertembus anak panah.
ImagineIf AI: Cheng Ho memerintahkan pasukannya berlindung di balik perisai, anak panah menghujam tanah dan perisai dengan suara mendesing.
Hardy Awan: Derasnya anak panah menembus perisai, satu persatu anak buah Cheng Ho gugur bersimbah darah.
Hardy Awan: Melihat anak buahnya tumbang bersimbah darah, amarah Cheng Ho meluap, nadi nya bergetar, tombak yang digenggamnya tiba-tiba bercahaya menyilaukan.
Hardy Awan: Cahaya tombak membimbing tinggi di angkasa dan dengan kecepatan yang dapat diikuti mata menjadi berlipat ganda dan dalam sepersekian detik menjadi jutaan sinar tombak berwarna putih keemasan.
Hardy Awan: Sinar tombak itu kemudian meluncur secepat kilat ke bawah menyasar setiap prajurit musuh, menembus tameng-tameng dan mematahkan panah mereka, bunyi desing panah tertutupi deru gelombang panas cahaya tombak.
Hardy Awan: Ketika ribuan cahaya padam, ngarai itu sunyi, hanya nafas prajurit yang terdengar berdegup, Cheng Ho berdiri kokoh dengan aura agung.
ImagineIf AI: Cheng Ho melangkah maju, matanya tajam memandang musuh yang tercengang.
Hardy Awan: Langkah demi langkah menggetarkan seluruh medan perang, dengan aura keagungan membuat seluruh pasukan baik lawan maupun kawan berlutut.
ImagineIf AI: Kehadiran Cheng Ho membuat pasukan lawan terkejut, sementara pasukan kawan mendapat semangat baru, Mei Fang memandang Cheng Ho dengan penuh kekaguman.
Hardy Awan: Cheng Ho baru menyadari kehadiran gadis ini, Mei Fang, sosok yang sebelumnya tak ia perhatikan, prasangkanya salah pada gadis tersebut.
ImagineIf AI: Cheng Ho menatap Mei Fang dengan lembut, menghilangkan kesan keagungannya sejenak.
Hardy Awan: Cheng Ho berpikir keras mempertanyakan kehadiran bidadari selembut awan di tengah kerasnya perang, beringasnya kematian dan sombongnya roda zaman yang sedang melindas.
ImagineIf AI: Cheng Ho mendekati Mei Fang, pertanyaan mengganjal di pikirannya tentang kehadiran gadis ini di medan perang.
Hardy Awan: Kenapa kamu disini, tanya Cheng Ho dengan suara parau.
ImagineIf AI: Mei Fang menatap Cheng Ho dengan mata lembut, kemudian menjawab dengan suara pelan, aku mencari seseorang.
Hardy Awan: Cheng Ho menatap area perang, banyak anak buahnya yang gugur.
Sebaiknya kamu kembali, disini tak ada harapan, perang ini sia-sia.
Hardy Awan: Cheng Ho berlari ke garis musuh, berjuang sepenuh tenaga, sesuatu yang aneh terlihat, ketika Cheng Ho terluka, luka itu menutup dan sembuh secepatnya dan tak meninggalkan bekas di tubuhnya.
ImagineIf AI: Mei Fang terkejut, mengamatinya dengan mata lebar, apa rahasia di balik kesaktian Cheng Ho?
Hardy Awan: Tak menghiraukan tatapan Mei Fang, Cheng Ho dengan cepat habisi musuh-musuhnya sampai yang tersisa menyatakan menyerah...
Kemudian ia duduk istirahat.
Hardy Awan: Mei Fang menghampiri Cheng Ho, berhati-hati duduk di samping Cheng Ho.
Hardy Awan: Merasa sangat lelah, Cheng Ho menutup mata, tenggelam dalam meditasi, sekeliling tubuhnya berpendar cahaya kekuningan yang samar, terlihat agung dengan aura dewa.
ImagineIf AI: Mei Fang terpesona, cahaya kekuningan makin terang, Cheng Ho mulai berubah.
Hardy Awan: Dalam alam bawah sadar Cheng Ho, dunia celestial terbayang dan masa-masa mudanya terbayang.
ImagineIf AI: Cheng Ho melihat dirinya masih sebagai dewa, berdiri di atas awan, memandang ke bumi dengan sedih.
Hardy Awan: Perlahan esensi dunia terserap ke dalam tubuhnya semakin lama semakin dahsyat, terlihat makhluk bumi di bawahnya mulai layu.
Hardy Awan: Cheng Ho menyadari, bilamana hal ini terus terjadi, makhluk bumi akan punah.
Ia terbangun dari semadhi nya, perlahan ingatannya pulih seiring dengan meningkatnya kekuatan tubuh dewanya.
ImagineIf AI: Cheng Ho membuka mata, menatap Mei Fang dengan tajam, kemudian bertanya dengan suara berwibawa, Apa yang telah terjadi?
Hardy Awan: Ayah... Ayahku telah mangkat, sebelum ia menutup mata untuk terakhir kalinya, ia mewasiatkan diriku untuk mencari saudaraku, dan terakhir kali informasinya, ia ikut dalam peperangan ini.
Hardy Awan: Cheng Ho menatapnya, dengan kemampuan mata dewa nya ia meneliti aura gadis di depannya, kemudian pandangannya menyapu medan perang mencari aura yang sama.
ImagineIf AI: Tiba-tiba matanya berhenti pada sosok yang familar, aura yang sama dengan Mei Fang, berdiri di barisan musuh.
Hardy Awan: Dalam sekejap mata Cheng Ho berpindah tepat di depan orang tersebut, pasukan musuh di sekelilingnya terhempas.
ImagineIf AI: Cheng Ho memandang sosok itu dengan tajam, dan sosok itu menatapnya dengan rasa takjub, lalu terucap kata "Kakak?
Hardy Awan: Cheng Ho memegang baju lelaki itu kemudian dalam sekejap membawanya kembali ke pasukannya, lelaki yang mengenalinya sebagai kakak itu takjub dengan kecepatan Cheng Ho.
ImagineIf AI: Lelaki itu memandang Cheng Ho dengan penuh kekaguman, kemudian bertanya dengan suara pelan, Apa yang terjadi denganmu, kakak?